Tuesday, March 29, 2016

Filled Under:

Sebuah Memori Tentang Taksi Dan Perjuangan Mencari Kerja

Share
Agak shock juga melihat berita di televisi kemarin, ratusan sopir taksi berdemo dan mengamuk terhadap sarana transportasi berbasis online, sayangnya rekan mereka sendiri pun ikut-ikutan kena getah, yang tidak ikut demo dipaksa ikut demo, taksi dirusak, pengemudi dipukuli. Lebih mengejutkan lagi adalah beberapa sopir anarkis tersebut adalah sopir Burung Biru, perusahaan taksi yang selama ini memiliki reputasi yang cukup baik dimata saya. Saya sampai berpikir sebegitu dahsyatnya kah sistem online merubah dunia offline? lalu bagaimanakah dengan keinginan pelanggan?

Ini mengingatkan saya dulu waktu melamar ke sebuah perusahaan BUMN di Jakarta, lokasi perusahaan tersebut di Jakarta Timur sementara saya menginap di kantor teman di Jakarta Selatan, maklum waktu itu masih buta Jakarta. Sarana transportasi yang menurut saya masih bisa diandalkan adalah taksi, nyaman, aman, tidak berdesak-desakkan, bebas dari asap knalpot sehingga pikiran saya masih fresh ketika tandatangan kontrak. Malamnya saya langsung telepon ke operator Burung Biru minta dikirim taksi ke alamat teman pagi hari jam 05:30 dengan asumsi menghindari macet. Pagi jam 05:30 saya sudah siap di gerbang melongok kiri kanan berharap menemukan taksi berlogo burung, tidak ada. Jam 06:00 ternyata belum ada mulai gelisah, akhirnya jam 06:30 saya telepon lagi ke operator Burung Biru, jawaban yang saya terima mengecewakan, tidak ada unit yang tersedia. Terus terang ini pengalaman pertama kali memesan taksi dan saya cukup heran kenapa kita tidak mendapat unit padahal sudah pesan dari malam hari.

Operator menyarankan saya menggunakan Burung Perak, ya sudah lah saya terima (belakangan saya mengetahui kalau Burung Perak itu versi mewah dari Burung Biru, maklum di kota saya ga ada taksi) dengan syarat sampai dalam waktu setengah jam. Daaaaaan jam 7 masih belum tampak batang hidungnya, akhirnya saya minta bantuan teman mengantar ke kantor dengan naik motor, itupun setelah beberapa kali tersesat karena teman saya tidak tahu daerah Jakarta Timur, sampai di kantor jam 07:55 hampir telat, bayangkan rasa panik, kalut dan putus asa yang menghinggapi saya. Bagaimana dengan si Burung Perak? oh dia sampai sih ke rumah teman saya tapi itu jam setengah sembilan, telpon dari pengemudinya tidak saya angkat (karena mulai masa orientasi kerja), Mulai saat itulah saya agak gimana gitu kalau mau pesen taksi takut hal tersebut terulang lagi. Bayangin saja kalau saat-saat tersebut saat yang menentukan masa depan karir kamu (misal wawancara user) dan kamu terlambat bukan karena salah kamu bagaimana?

Skip ke masa sekarang, di mata saya sebagai konsumen adanya sarana transportasi berbasis online terus terang memberikan pilihan yang lebih banyak kepada konsumen. Kalau konsumen memilih perusahaan ojek online ya karena memang di mata kita lebih praktis dan nyaman, tidak bisa kita dipaksa. Mungkin sudah waktunya perusahaan tersebut bertanya kepada konsumen kenapa mereka lebih memilih Uber dan Gojek daripada jasa layanan mereka.

0 comments: